BRTI Umumkan Perubahan Tarif Interkoneksi

Kamis , 13/07/2006 17:49 WIB
BRTI Umumkan Perubahan Tarif Interkoneksi
Achmad Rouzni Noor II – detikInet

Ilustrasi (brti.or.id)
Jakarta, Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) mengumumkan perubahan tarif interkoneksi yang akan diberlakukan, menyusul penerapan kebijakan interkoneksi berbasis biaya.

Tiga operator dominan sudah menyerahkan Dokumen Penawaran Interkoneksi (DPI). BRTI menegaskan, pemerintah dan operator berkomitmen untuk tidak menaikkan tarif telekomunikasi lokal, meski kebijakan interkoneksi berbasis biaya diberlakukan.

Anggota BRTI Hery Nugroho, kepada wartawan membacakan besaran biaya interkoneksi. Dari hasil perhitaungan yang dilakukan, dan besaran biaya interkoneksi yang ditawarkan dapat disimpulkan sebagai berikut:
 Perhitungan besaran tarif pungut panggilan interkoneksi lokal dari PSTN ke PSTN yang sama, Rp 250 per menit (rata-rata trafik Rp 179/menit) menjadi Rp 314/menit. Untuk menghindari terjadinya kenaikan tarif yang dibayarkan oleh masyarakat, penyelenggara berkomitmen tidak akan menaikkan tarif percakapan lokal PSTN.

 Perhitunagn besaran tarif pungut panggilan interkoneksi lokal dari PSTN ke seluler yang semula Rp 656/menit menjadi Rp 611/menit, atau turun sebesar 7%.

 Perhitunagn besaran tarif pungut panggilan interkoneksi jarak jauh dari PSTN ke seluler, yang semula zona I: Rp 1.696/menit; zona II: Rp 2.221/menit dan zona III: Rp 2.676/menit, turun menjadi zona I: Rp 1.180/menit (turun 30%); zona II: Rp 1.180/menit (turun 47%); zona III: Rp 1.180/menit (turun 56%).

 Perhitunagn besaran tarif pungut panggilan interkoneksi dari selular ke lokal PSTN dalam satu area layanan, yang semula Rp 531/menit naik menjadi Rp 629/menit (naik 18%). Perhitungan besaran tarif Rp 531/menit hanya dilakukan pada pelanggan pascabayar. Sedangkan untuk pelanggan prabayar Telkomsel contohnya, mengenakan tarif Rp 950/menit. Di sisi lain pelanggan pascabayar dibebani biaya berlangganan bulanan.

Biaya interkoneksi dari seluler ke PSTN untuk panggilan lokal, mengalami kenaikan sebesar Rp 143/menit, yang semula dari Rp 125/menit menjadi Rp 268/menit. Akan tetapi apabila dilihat secara utuh, sesungguhnya terdapat penurunan, karena biaya interkoneksi tarif dari seluler.

Dengan demikian yang terjadi adalah sebaliknya, di mana terdapat penurunan biaya interkon sebesar Rp 129/menit. “Dengan kondisi tersebut tidak ada alasan bagi penyelanggara seluler untuk menaikkan tarif yang dibebankan kepada masyarakat untuk panggilan dari seluler ke PSTN,” ujar Hery.

 Perhitunagn besaran tarif pungut panggilan interkoneksi jarak jauh dari seluler ke PSTN lokal, yang semula zona I: Rp 1.821/menit; zona II: Rp 2.346/menit; zona III: Rp 2.801/menit. Turun menjadi zona I: Rp 890/menit (turun 51%); zona II: Rp 890/menit (turun 62%); zona III: Rp 890/menit (68%)

 Perhitunagn besaran tarif pungut panggilan interkoneksi dari seluler ke lokal seluler dalam satu area layanan yang awalnya Rp 812/menit, naik menjadi Rp 898/menit, naik 11%. Besaran tarif sebesar Rp 812/menit hanya diberlakukan pada pelanggan pascabayar. Sedangkan pelanggan prabayar, Simpati contohnya mengenakan tarif sebesar Rp 1.600/menit.

“Dengan kondisi tersebut, tidak ada alasan bagi penyelenggara seluler untuk menaikkan tarif,” ujar Hery.

 Perhitunagn besaran tarif pungut panggilan interkoneksi dari lokal seluler ke seluler jarak jauh, yang semula zona I: Rp 2.102/menit; zona II: Rp 2.627/menit; zona III: Rp 3.082/menit; turun menjadi zona I: Rp 1.071/menit (turun 49%); zona II: 1.071/menit (turun 59%); zona III Rp 1.071/menit (turun 65%).

“Dengan kondisi tersebut, penyelenggara berkomintmen untuk tidak menaikkan tarif pungut interkoneksi. Bahkan dengan berlakunya interkoneksi berbasis biaya, maka tarif yang dibebankan pada masyarakat seharusnya diturunkan,” Hery menjelaskan.

Masih menurut Hery, khusus untuk penyelenggara Wartel, mereka akan mengalami penurunan pendapatan dari kondisi existing bila operator menggunakan biaya interkoneksi sebagai basis penerapan tarif pungut pada masyarakat. Hal ini dikarenakan persentase pendapatan Wartel dihitung dari tarif yang dibayar dari masyarakat setelah dikurangi biaya interkoneksi. (nks)(nks)
Sumber berita : http://www.detikinet.com/index.php/detik.read/tahun/2006/bulan/07/tgl/13/time/174906/idnews/635367/idkanal/331
http://www.brti.or.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: