6 Prinsip Pengakuan yang Sehat

6 Prinsip Pengakuan yang Sehat

Berikut ini adalah 6 prinsip yang akan menolong anda untuk mengakui atau
berbagi tentang suatu masalah dengan orang lain secara sehat:

1. Jadilah sensitif

Jangan terlalu membebani pendengar anda. Orang yang sedang menderita atau
terluka biasanya terfokus pada diri mereka sendiri. Sakit yang mereka
rasakan membuat mereka hanya melihat diri mereka,masalah mereka, dan
kebutuhan mereka. Sulit bagi mereka untuk berpikir tentang hal yang lain.
Namun penderitaan bukanlah ijin resmi untuk membuat orang lain merasa
merasa tidak nyaman, terutama yang berniat untuk membantu. Mereka yang mau
menolong kita juga mempunyai kehidupan sendiri, dan kita tidak berhak
untuk “membuang” masalah kita kepada mereka setiap kali kita merasakan
kebutuhan untuk berbagi.

Ketika anda ingin menceritakan masalah anda kepada orang lain, tanyakanlah
bagaimana anda dapat menghormati waktu mereka. Cari tahu kapan waktu yang
baik untuk menelepon dan juga sebaliknya. Ketahuilah jadwal orang tersebut
sehingga anda dapat meminimalisir kemungkinan mengganggu mereka.

2. Bersikaplah bijaksana

Jadilah peka dalam memilah-milah hal-hal apa saja yang tepat untuk
dibicarakan dan mana yang tidak. Hindari topik-topik detil tentang hal-hal
yang berhubungan dengan seks, membicarakan kejelekan atau kesalahan orang
lain, dan pengulangan cerita yang sama tentang hal-hal yang membuat anda
frustasi. Hal-hal ini tidak penting bagi pendengar anda. Sensorlah
perkataan anda sebelum anda ditolak oleh orang lain. .

3. Jujur

Jangan mengakui kesalahan orang lain saja. Apa yang kita perlu akui adalah
hal-hal yang telah kita lakukan, yang berkontribusi terhadap terjadinya
suatu masalah. Jika kita mulai berfokus hanya pada perbuatan orang lain,
maka terkadang ini akan menjadi kesempatan bagi kita untuk menyalahkan
pihak yang mungkin sebenarnya tidak bersalah atau tidak perlu berubah.
Jika anda bersikeras bahwa anda adalah korbannya, pengakuan anda akan
selalu dangkal, dan pertumbuhan rohani anda akan berada di level yang
paling lambat.

4. Sesuaikan harapan anda

Jangan berharap lebih dari apa yang mampu diberikan oleh pendengar. Jika
pendengar anda bukan seorang konselor yang terlatih, dia tentu tidak dapat
menjadi ahli terapis anda. Bahkan seorang ahli terapis pun bukan seorang
pembuat keajaiban. Harapan anda terhadap mereka yang mendengarkan anda
sudah seharusnya dibatasi dan realistis, yang artinya anda melihat mereka
sebagai pendengar, bukan penyelesai masalah. Pendengar yang merasa
bertanggungjawab menyelesaikan masalah orang lain akan mengalami
kekeringan emosional.

5. Jangan menyembunyikan emosi anda

Beberapa orang mengalami kesulitan dalam mengekspresikan perasaan mereka.
Mungkin mereka takut bahwa jika mereka mulai membicarakan perasaan mereka,
maka luka mereka akan terbuka kembali. Jadi mereka berusaha keras untuk
menyembunyikan emosi mereka. Cara terbaik untuk tidak hanyut dalam
perasaan, memang dengan tidak membicarakannya, namun itu tidak akan
membuat perasaan itu pergi. Jangan pernah menyembunyikan emosi anda hanya
karena anda tidak suka mengekspresikannya.

Jika anda tidak mengakui emosi-emosi yang berhubungan dengan kebenaran,
anda gagal untuk membicarakan seluruh kebenarannya. Perasaan atau emosi
anda adalah bagian terbesar dari cerita anda. Menyangkal emosi anda,
menolak untuk menangis, menyembunyikan kemarahan, tersenyum di balik
kesedihan, atau menggertak untuk menutupi ketakutan anda, adalah tindakan
yang tidak jujur. Lagipula, emosi-emosi tersebut dapat mengekspresikan
kebenaran. Air mata dan kemarahan bukan merupakan tanda dari kelemahan
atau tidak rohani. Emosi dan perasaan anda adalah respon yang sangat
manusiawi terhadap rasa sakit dan malu. Jangan biarkan keinginan anda
untuk selalu tampil kuat, menghalangi anda untuk bersikap jujur.

6. Pertahankan ketergantungan yang sehat

Misalkan ada sepasang sahabat, Cindy dan Linda, yang mempunyai
ketergantungan yang tidak sehat. Orang-orang yang bersikap seperti Linda,
yang selalu menelepon, meminta nasehat, meminta dukungan emosional yang
positif, telah menyandarkan ketergantungannya kepada orang lain, bukan
kepada Tuhan. Dan siapapun yang bersikap seperti Cindy, yang mengijinkan
orang lain mendominasi waktunya, menunjukkan tanda bahwa dia mengijinkan
kebutuhan pribadinya dan masalahnya sendiri tidak terselesaikan, demi
usaha untuk menjadi pendengar yang baik.

Ketergantungan sejenis dapat berkembang jika orang yang berhubungan dengan
anda mulai menggunakan anda dan masalah anda sebagai suatu hiburan, atau
sebagai selingan dalam kehidupan mereka. Beberapa orang terlahir sebagai
“penyelamat”. Namun jika motivasi mereka untuk “menyelamatkan” atau
menolong tersebut berasal dari kebutuhan untuk memegang kendali atau agar
mereka merasa dirinya penting, anda akan menjadi sangat penting bagi
mereka.

Jika anda berhubungan dengan seseorang dan anda merasa sedang berada dalam
ketergantungan yang tidak sehat, ubahlah sikap anda agar hubungan yang
telah terjalin di antara anda dan mereka dapat tetap positif dan saling
menghargai satu sama lain.(fis)

Best Wishes,
Lia Brasali Ariefano
“Every woman has her own legacy. Nothing she could do to change it…
But she can decide how to live her legacy, and then pass on her legacy to
bless the world… through the next generation of hers.”

(Sumber : Dari milist ndak jelas aslinya, silahkan inform  jika anda merasa penulis awal artikel ini)

One Response

  1. Cuma mau menjelaskan bahwa tulisan di atas bukan tulisan saya.
    Saya juga hanya mendapatkan dari satu sumber.
    Tks.

    -lia b.ariefano-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: